- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/02/cara-memasang-readmore-otomatis-dengan.html#sthash.RNmwhyUw.dpuf
 

assalamu'alaikum wr.wb

ontime

Senin, 03 Maret 2014

ASKEP DENGAN INTUSUSEPSI

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Pengkajian fisik secara umum
b. Riwayat kesehatan
c. Observasi pola feses dan tingkah laku sebelum dan sesudah operasi
d. Observasi tingkah laku anak/bayi
e. Observasi manifestasi terjadi intususepsi :

- Nyeri abdomen paroksismal
- Anak menjerit dan melipat lutut ke arah dada
- Anak kelihatan normal dan nyaman selama interval diantara episode- nyeri
- Muntah
- Letargi
- Feses seperti jeli kismis mengandung darah dan mucus, tes hemocculi- positif.
- Feses tidak ada meningkat-
- Distensi abdomen dan nyeri tekan-
- Massa terpalpasi yang seperti sosis di abdomen-
- Anus yang terlihat tidak biasa, dapat tampak seperti prolaps rectal.-
- Dehidrasi dan demam sampai kenaikan 410C-
- Keadaan seperti syok dengan nadi cepat, pucat dan keringat banyak-

f. Observasi manifestasi intususepsi yang kronis

  • Diare
  • Anoreksia
  • Kehilangan berat badan
  • Kadang-kadang muntah
  • Nyeri yang periodic
  • Nyeri tanpa gejala lain

g. Kaji dengan prosedur diagnostik dan tes seperti pemeriksaan foto polos abdomen, barium enema dan ultrasonogram

2. Masalah Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan invaginasi usus.
2. Syok hipolemik berhubungan dengan muntah, perdarahan dan akumulasi cairan dan elektrolit dalam lumen.
3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, lingkungan yang asing.
4. Inefektif termoregulasi berhubungan dengan proses inflamasi, demam.
5. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.

3. Perencanaan

a. Preoperasi

1. Diagnosa keperawatan : nyeri berhubungan dengan invaginasi usus.
Tujuan: berkurangnya rasa nyeri sesuai dengan toleransi yang dirasakan anak.

Kriteria Hasil : anak menunjukkan tanda – tanda tidak ada nyeri atau ketidaknyamanan yang minimum.

Intervensi :
Observasi perilaku bayi sebagai indikator nyeri, dapat peka rangsang- dan sangat sensitif untuk perawatan atau letargi atau tidak responsive.
Perlakuan bayi dengan sangat lembut.-
Jelaskan penyebab nyeri dan yakinkan orangtua tentang tujuan tes- diagnostik dan pengobatan.
Yakin-kan anak bahwa analgesik yang diberikan akan mengurangi rasa nyeri yang dirasakan.
Jelaskan tentang intususepsi dan reduksi hidrostatik usus yang dapat- mengurangi intususepsi.
Jelaskan resiko terjadinya nyeri yang berulang.-
Kolaborasi: berikan analgesik untuk mengurangi rasa nyeri.-

2. Diagnosa keperawatan: syok hipovolemik berhubungan dengan muntah, perdarahan dan akumulasi cairan dan elektrolit dalam lumen.

Tujuan : volume sirkulasi (keseimbangan cairan dan elektrolit) dapat dipertahankan.
Kriteria Hasil: tanda – tanda syok hipovolemik tidak terjadi.

Intervensi :
Pantau tanda vital, catat adanya hipotensi, takikardi, takipnea,- demam.
Pantau masukan dan haluaran.-
Perhatikan adanya mendengkur atau pernafasan cepat dan dangkal jika- berada pada keadaan syok.
Pantau frekuensi nadi dengan cernat dan ketahui rentang nadi yang- tepat untuk usia anak.
Laporkan adanya takikardi yang mengindikasikan syok.-
Kurangi suhu karena demam meningkatkan metabolisme dan membuat- oksigenasi selama anestesi menjadi lebih sulit.
Kolaborasi:-
Lakukan pemeriksaan laboratorium: Hb/Ht, elektrolit, protein, albumin, BUN, kreatinin.
Berikan plasma/darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi untuk memelihara volume darah sirkulasi.

4. Diagnosa keperawatan: ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, lingkungan yang asing.

Tujuan: rasa cemas pada anak dapat berkurang
Kriteria hasil: anak dapat beristirahat dengan tenang dan melakukan prosedur tanpa cemas.

Intervensi :
Beri pendidikan kesehatan sebelum dilakukan operasi untuk mengurangi- rasa cemas.
Orientasikan klien dengan lingkungan yang masih asing.-
Pertahankan ada orang yang selalu menemani klien untuk meningkatkan- rasa aman.
Jelaskan alasan dilakukan tindakan pembedahan.-
Jelaskan semua prosedur pembedahan yang akan dilakukan.-

b. Post operasi
5. Diagnosa keperawatan: nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan
.
Tujuan : berkurangnya rasa nyeri sesuai dengan toleransi pada anak.
Kriteria Hasil: anak menunjukkan tanda – tanda tidak ada nyeri atau ketidaknyamanan yang minimum.

Intervensi :
Hindarkan palpasi area operasi jika tidak diperlukan.-
Masukkan selang rektal jika diindikasikan, untuk membebaskan udara.-
Dorong untuk buang air untuk mencegah distensi vesika urinaria.-
Berikan perawatan mulut untuk memberikan rasa nyaman.-
Lubrikasi lubang hidung untuk mengurangi iritasi.-
Berikan posisi yang nyaman pada anak jika tidak ada kontraindikasi.-
Kolaborasi:-
Berikan analgesi untuk mengatasi rasa nyeri.
Berikan antiemetik sesuai pesanan untuk rasa mual dan muntah.

6. Diagnosa keparawatan: inefektif termoregulasi berhubungan dengan proses inflamasi, demam.

Tujuan : termoregulasi tubuh anak normal.
Kriteria Hasil: tidak ada tanda – tanda kenaikan suhu.

Intervensi :
Gunakan tindakan pendinginan untuk mengurangi demam, sebaiknya 1 jam- setelah pemberian antipiretik.
Meningkatkan sirkulasi udara.-
Mengurangi temperatur lingkungan.-
Menggunakan pakaian yang ringan / tipis.-
Paparkan kulit terhadap udara.-
Gunakan kompres dingin pada kulit.-
Cegah terjadi kedinginan, bila anak menggigil tambahkan pakaian.-
Monitor temperatur.-
Kolaborasi: berikan antipiretik sesuai dengan berat badan bayi.-

7. Evaluasi

a. Nyeri pada abdomen dapat berkurang
b. Syok hipovolemik dapat teratasi dengan segera melakukan koreksi terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit.
c. Obstrusi usus dapat teratasi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.

A. Kesimpulan

Berbagai gangguan yang terdapat pada saluran pencernaan bayi dan anak salah satunya adalah adanya obstruksi pada usus dan hal ini mencakup mekanik maupun paralitik. Sedangkan intususepsi merupakan salah satu bentuk gangguan obstruksi usus yang sifatnya mekanik.

Intususepsi merupakan gangguan saluran pancernaan yang dimanifestasikan dengan terjadinya invaginasi usus ke dalam bagian usus di bawahnya. Masalah yang utama muncul yaitu terjadinya rasa nyeri abdomen yang paroksismal. Serta terjadinya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit hingga terjadi syok hipovolemik.

B. Saran

Dalam memberikan perawatan kepada bayi atau anak dengan gangguan saluran pencernaan obstruksi usus mekanik ini yaitu intususepsi harus diperhatikan ancaman yang dapat muncul selain rasa nyeri yaitu resiko terjadinya syok yang dapat menyebabkan kematian. Sehingga tenaga kesehatan harus benar – benar memperhatikan tanda – tanda yang mengarah ke arah syok.

DAFTAR PUSTAKA

Staf Pengajar Ilmu kesehatan masyarakat. Ilmu kesehatan anak. Jakarta: Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, 1985

Pilliteri, Adele. Child health nursing, care of the child and family, Los Angeles California, Lippincott, 1999

Wong, Donna L, Marilyn Hockenberry- Eaton, Wilson- Winkelstein, Wong’s essentials of pediatric nursing, America, Mosby, 2001

Nettina, Sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setiawan,dkk. Jakarta, 2001

Wong, Donna L. Wong and Whaley’s clinical Manual Of Pediatric Nursing. St. Louis Nissori: Mosby, 1996

TIPS CARA BELAJAR YANG BAIK

Tips Cara Belajar yang Baik

1. Ciptakan suasana yang kondusif
 Dalam belajar, kamu harus menciptakan suasana yang kondusif, nyaman dan tenang untuk belajar. Cara ini merupakan salah satu cara belajar yang baik karena bagaimanapun jika ingin materi yang kamu pelajari itu bener-bener masuk ke otakmu, kamu harus tenang dan dalam keadaan yang nyaman. Sehingga nggak mengganggu konsentrasi. Belajar di luar ruangan mungkin adalah pilihan yang cukup baik, karena selain lebih fresh, kita juga bisa lebih tenang dan nggak penat dalam belajar.

2. Lihat garis besarnya dahulu
Tips cara belajar yang baik dengan melihat garis besar materi. Jika membaca bahan pelajaran yang baru, jangan langsung menceburkan diri kedalamnya. Kamu bisa lebih meningkatkan pemahaman bila melihat sepintas garis besarnya. Lihatlah semua subjudul, keterangan gambar dan ringkasan yang ada. Jik membaca bacaan yang cukup panjang, maka bacalah dahulu kalimat pertama dari setiap paragrafnya.

3. Buatlah catatan intisari dari bahan pelajaran
Tips cara belajar dengan teknik meringkas intisari dari pelajaran. Kalau kamu meringkas materi dari setiap bahan pelajaran ke dalam sebuah catatan kecil, maka akan sangat membantumu mengingat bahan pelajaran itu. Pada saat kamu menulisnya, kamu pasti membaca materinya lagi, bener kan? Itu akan membuatmu cepat hafal materinya. Sebaiknya catatan itu ditulis kedalam buku kecil atau kertas yang bisa dibawa kemana-mana, sehingga bisa dibaca kapan dan dimanapun kamu berada. Tips Cara belajar yang baik bukan?

4. Berlatihlah tehnik kemampuan mengingat
Cara Belajar Yang Baik dengan teknik kemampuan mengingat. Agar lebih mudah kamu ingat sebaiknya materi yang akan kamu hafal itu diubah menjadi sebuah singkatan atau kata kunci (Mnemonics) dengan formulasi yang mudah diingat-ingat. Seperti MeJiKuHiBiNiU untuk singkatan-singkatan dari warna pelangi, yaitu Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Walaupun kamu jika menghafal langsung dalam 1 minggu sudah lupa, dengan menggunakan mnemonics seperti ini kamu bisa ingat sampai puluhan tahun lamanya.

5. Belajarlah dengan tekun dan rutin.
Tips cara belajar yang baik dan paling ampuh adalah dengan tekun dan rutin. Belajar tepat waktu dan serius juga sangat berpengaruh dalam peningkatan prestasi belajar, apabila kamu jarang belajar maupun  hanya belajar jika akan ada ulangan pasti prestasinya gak akan maksimal. Jadi belajarlah dengan tekun dan rutin selagi ada waktu untuk belajar. Juga jangan belajar dengan tergesa-gesa pada hari terakhir sebelum ulangan, cara belajar yang baik seperti itu hasilnya juga nggak akan maksimal.
Demikian beberapa tips cara belajar yang baik efektif dan efisien untuk anda coba, semoga sukses!!

ASKEP PASIEN DENGAN HIPERTENSI


Pengkajian 

1. Biodata Pasien : Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Agama, Status, Alamat

2. Biodata Penaggung Jawab : Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Agama, Status, Alamat

3. Riwayat Kesehatan
  • Riwayat Kesehatan Sekarang
  • Riwayat Kesehatan Dahulu
  • Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Aktivitas/ Istirahat
  • Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
  • Tanda : Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
b. Sirkulasi
  • Gejala : Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
  • Tanda : Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda.
c. Integritas Ego
  • Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, faktor stress multiple (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).
  • Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue perhatian, tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
  • Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat penyakit ginjal pada masa yang lalu).
e. Makanan/Cairan
  • Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini (meningkat/turun) Riwayat penggunaan diuretic
  • Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya edema, glikosuria.
f. Neurosensori
  • Gejala : Keluhan pening/pusing, berdenyu, sakit kepala, subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan setelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis).
  • Tanda : Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek, proses pikir, penurunan kekuatan genggaman tangan.
g. Nyeri/ ketidaknyaman
  • Gejala : Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung), sakit kepala.
h. Pernafasan
  • Gejala : Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, ortopnea, dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
  • Tanda : Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi nafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.
i. Keamanan
  • Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.
Diagnosa Keperawatan 
  1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
  2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
  3. Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
  4. Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
Intervensi Keperawatan

1. Diagnosa Keperawatan 1 : Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
Tujuan :
  • Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard.
Kriteria Hasil :
  • Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / beban kerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.
Intervensi :
  • Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat.
  • Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
  • Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas.
  • Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler.
  • Catat edema umum.
  • Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.
  • Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi
  • Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
  • Lakukan tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan leher
  • Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
  • Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
  • Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
  • Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi.
2. Diagnosa Keperawatan 2 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan :
  • Aktivitas pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil :
  • Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan, melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi :
  • Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter : frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatanTD, dipsnea, atau nyeri dada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress, aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja/ jantung).
  • Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual).
  • Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung).
  • Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen).
  • Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas.(Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas danmencegah kelemahan).
3. Diagnosa Keperawatan 3 : Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan :
  • Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat.
Kriteria Hasil :
  • Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.
Intervensi :
  • Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan
  • Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan.
  • Batasi aktivitas.
  • Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin.
  • Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan.
  • Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi.
4. Diagnosa keperawatan 4 : Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
Tujuan :
  • Sirkulasi tubuh tidak terganggu.
Kriteria Hasil :
  • Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
Intervensi :
  • Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur.
  • Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia.
  • Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan.
  • Amati adanya hipotensi mendadak.
  • Ukur masukan dan pengeluaran.
  • Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan.
  • Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan.
 

cursor

samurai x Final Fantasy 7 Cloud Strife

animasi

cursor


Get this widget!
Sumber : http:achmad.com
semoga bermanfaat